Info update
Loading...
Kamis, 01 Januari 2026

Dari Gowa ke Morowali, Perjalanan Hidup Agus Salim Bersama PT IMIP Selama Lebih dari Satu Dekade.

Suasana PT IMIP terus berkembang membangun Morowali.

MOROWALI (MEDIA INDONESIA HEBAT) Perjalanan hidup di tanah perantauan penuh dengan cerita perjuangan, pengorbanan, dan harapan. Hal itulah yang dialami Agus Salim, pria kelahiran Bontolangkasa, Kec Bontonompo Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, yang 10 tahun tinggalkan orang tuanya, tepatnya 2016 lalu memberanikan diri meninggalkan kampung halaman untuk mengadu nasib di Morowali, daerah yang kini dikenal sebagai salah satu pusat pertambangan terbesar di Indonesia.

PT IMIP menyerap tenaga kerja sehingga tidak menumpuk pengangguran.

Agus Salim mengisahkan, saat dirinya pertama kali tiba di Morowali, perusahaan tambang PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) masih tergolong baru. Berkat bantuan dan rekomendasi orang-orang yang lebih dulu bekerja dan berkarya di kawasan industri tersebut, ia akhirnya diterima bekerja di PT IMIP.

Namun, jalan menuju pekerjaan itu tidak mudah. Pada masa awal perantauan, Agus harus tinggal di rumah penduduk di kawasan transmigrasi. Ia membantu pekerjaan tuan rumah demi bisa bertahan hidup. Selama hampir setahun, hidupnya bisa dibilang terkatung-katung. Jauh dari keluarga, makan seadanya, dan menahan rasa malu karena menumpang di rumah orang lain yang bukan keluarga.


“Namanya merantau, apa pun pekerjaan tuan rumah pasti kita ikut bantu. Walaupun susah, saya bersyukur masih bisa numpang tidur,” ujar Agus mengenang masa-masa sulitnya di Morowali.

Waktu berjalan, tanpa terasa Agus kini telah hampir 10 tahun bekerja di PT IMIP. Perjalanan panjang itu membuatnya menjadi saksi langsung perkembangan pesat perusahaan tambang nikel tersebut. Dari kondisi awal yang masih sederhana hingga kini menjadi salah satu perusahaan tambang terbesar di kawasan timur Indonesia, Agus mengaku melihat dan merasakan sendiri perubahan itu.

Selama 10 tahun bekerja, suka dan duka telah ia lalui. Menurutnya, PT IMIP tidak hanya berkembang secara fisik dan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, Morowali kerap disebut sebagai daerah tujuan bagi mereka yang ingin mencari pekerjaan.

“Dulu perusahaan masih biasa-biasa saja. Sekarang berkembang pesat dan membantu banyak orang untuk bekerja. Sampai sering terdengar, kalau tidak mau menganggur di kampung, pergilah ke Morowali,” tuturnya.

Kini Agus Salim telah resmi menjadi penduduk Morowali. Ia mengantongi KTP salah satu desa di Kabupaten Morowali dan membangun kehidupan bersama istri dan anak-anaknya. Ia juga mengaku telah membeli sebidang tanah dan membangun rumah sederhana agar tidak lagi harus tinggal di kos atau kontrakan. Memang masih jauh dari hidup berlebih, tapi setidaknya PT IMIP telah memberikan pekerjaan sejak bergabung tahun 2016 lalu.

Meski memiliki penghasilan antara Rp 5 juta hingga Rp 7 juta per bulan, Agus mengakui biaya hidup di Morowali tergolong tinggi sehingga gaji tersebut sering kali habis untuk kebutuhan sehari-hari. Menurutnya, pendapatan bisa mencapai Rp 8 juta lebih jika lembur dimanfaatkan, namun usia dan tanggung jawab keluarga membuatnya tidak bisa lagi bekerja terlalu maksimal.

“Kalau sudah puluhan tahun kerja, tentu harus ada waktu untuk istri dan anak,” ujarnya.

Dengan penuh rasa syukur, Agus berharap PT IMIP terus berkembang dan mampu memberikan lebih banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia. Ia menilai perusahaan tempatnya bekerja telah menjadi solusi bagi banyak orang untuk bertahan hidup dan memperbaiki ekonomi keluarga.

“Hidup ini memang perjuangan. PT IMIP memberi jalan bagi putra-putri Indonesia untuk bekerja dan hidup lebih baik,” tutup Agus mengenang perjalanan hidupnya sejak hampir 10 tahun lalu hingga kini.(Redaksi)

0 komentar :

Posting Komentar

Back To Top